Kamis, 07 Januari 2010

ngiler kakak ipar sexy

nina kakak iparku
Nina kakak iparku
Hari ini begitu sibuknya bossku, yang berarti juga aku disibukkan dengan pekerjaanku. Setelah seharian mengetik dan duduk berjam-jam menghadapi komputer dengan ketikan begitu seabrek, dan mata yang sudah mulai meredup, karena layar monitor. Karena hal itulah aku jadi selalu lupa waktu, tidak terasa jam demi jam aku lalui, hari begitu cepatnya karena memang aku menikmati pekerjaanku.

Sudah selama 10 tahun aku bekerja di kantorku, itupun tidak terasa. Dan sudah delapan tahun aku mengarungi bahtera rumah tangga. Dengan satu anak yang cantik, aku selalu menyayangi keluargaku. Jum'at malam setelah selesai melaksanakan tugas-tugas di kantor, kuparkirkan motor yang masih kreditan yang selalu setia mengiringi dalam tugas-tugasku. Setelah itu beristirahat melepaskan lelah, aku sangat senang, walaupun hari ini sangat sibuk, tetapi ingat kalau kantor tempatku bekerja pada hari Sabtu libur. Kududukan pantatku di ranjang sambil menyalakan TV. Tepat saat itu tidak sengaja kupilih acara Duel Maut dari SCTV secara langsung disiarkan. Sebetulnya aku lebih suka melihat film-film yang berbau horor, atau berita kriminal. Tapi entah kenapa hati ini tidak memindah channel TV tersebut.

Kulihat goyangan-goyangan maut dari para artis cantik. Dan ketika melihat acara tersebut aku baru sadar kalau pinggul-pinggul artis tersebut bulat-bulat seperti dua bola yang saling beriringan bergerak. Pikiranku mulai nakal melayang-layang entah kenapa, tapi yang jelas kupikirkan kalau diantara dua bola tersebut ada lubang sempit. Kulihat isteriku sudah pulas tidur menelungkup, mungkin tidak menyadari kedatanganku malam ini. Sementara anakku sudah tidur dulu di kamar sebelah. Setelah mandi dan menyegarkan diri, aku membuat kopi dan menyulut rokok sambil terus melihat acara di TV yang belum kupindah channelnya.

Lama kelamaan pikiranku mulai melayang jauh melihat acara tersebut. Dengan dinginnya malam, apalagi setelah mandi dan keramas, membuat tubuh ini kedinginan. Apalagi aku masih dalam keadaan hanya tertutup handuk saja. Dengan keadaan seperti ini membuat "adikku" bangun malam. Perlahan-lahan tapi pasti si-dia mulai unjuk diri. Kutoleh isteriku yang setia disampingku. Masih lelap. Sementara burungku sudah mulai berdenyut-denyut. Mau kubangunkan, tetapi kasihan, takut capek. Apa boleh buat, aku hanya memegang penisku saja.

Lama kelamaan penisku semakin keras, dadaku berdetak tidak beraturan dan napasku tersengal-sengal. Kubuka handukku yang menutup tubuhku bagian bawah dan memang penisku sudah sangat keras. Kupegang erat-erat dengan kedua tanganku, menahan gejolak yang ada. Ternyata kedua tanganku dapat memegang batang zakarku sepenuhnya, yang berarti penisku bisa mencapai 18 cm. Kulihat helm yang "melindungi"-nya, begitu bulat. Sementara batang kemaluanku hampir 4 cm dengan urat-urat tidak beraturan yang mengelilingnya. Sudah tak tahan rasanya. Kuhampiri isteriku tanpa kubangunkan, sambil terus membayangkan pantat sang penyanyi, kugerayangi pantatnya. Isteriku hanya mengeliat sebentar lalu tertidur lagi, kali ini dengan posisi miring. Dasternya sedikit tersingkap, darahku berdesir melihat pantatnya. Walaupun tidak sexy, tetapi melihat bayangan pantat orang lain membuatku sungguh sangat bernafsu.

Entah kenapa malam ini aku sangat menyukai pantat. Kubuka daster isteriku, kulihat celana dalamnya hanya menutupi sebagian kecil pantatnya. Segitiga itu kuturunkan perlahan-lahan, takut membangunkan isteriku. Tetapi ternyata isteriku bangun, dan terkejut melihat aku sudah disampingnya. Tetapi lebih terkejut lagi melihatku sudah telanjang bulat.

"Sudah pulang, Mas?" tanya isteriku. Aku hanya terdiam saja.
"Aku mau pipis dulu"

Lalu dia pergi ke kamar mandi. Aku rebahan di ranjang. Masih menonton TV, kupikir-pikir, jika para wanita banyak yang memamerkan tubuhnya, kenapa para lelaki tidak memamerkan kemaluannya. Dengan pikiran semacam itu, penisku semakin tegang, membayangkan penisku yang kaya pisang ambon hitam ini ada yang melihat, selain isteriku. Pasti akan terkejut, terkejut senang tentunya.

"Kenapa, Mas?" tanya isteriku mengagetkan.

Walaupun dia tidak terkejut melihat pisang ambonku, tetapi mana ada wanita yang tahan melihat si hitam ini, walaupun sering melihatnya. Tanpa pikir panjang lagi dia langsung menghampiriku, lebih tepat lagi menghampiri kontolku. Diraihnya dengan mesra, dibelai-belai dengan perlahan, seolah-olah takut kalau mengenai kukunya.

"Mas, aku mau tanya..." kata isteriku.
"Tanya apa?" kembali aku bertanya.
"Kenapa kontolmu bisa segede ini?" aku hanya diam saja.
"Aku cuma mikir, kalau barang segede ini dimasukkan ke cewek lain, pasti ceweknya senang, ya Mas?".
"Jadi kamu senang kalau aku nggenjot cewek lain?"
"Nggak tahu lah..." jawabnya.
"Sebetulnya kalau cewek melihat kontol, itu terkejut, senang atau takut sih?"
"Mas kalau melihat cewek sexy bugil, suka nggak?"
"Tentu suka.."
"Mas ingin menindihnya nggak..?" tanya isteriku mulai serak, nggak tahu kenapa.

Sementara aku masih diam.

"Tentu saja Mas ingin mencumbunya, memeluknya dan terakhir ingin melihatnya merintih-rintih, bukan?" kata isteriku mulai menciumi kemaluanku.
"Begitu juga dengan si ceweknya, Mas. Dia ingin disayang, dibelai, dan terakhir ingin merasakan barang sang cowok masuk ke memeknya. Dia ingin merasakan jalannya barang itu perlahan-lahan, dan ingin menikmati semprotannya di dalam rahimnya. Jika sang cewek menjerit melihat kontol, itu adalah perasaan yang sangat mendalam dan begitu tiba-tiba. Perasaannya bercampur-campur, seperti yang kubicarakan tadi. Hanya saja sang cewek selalu bersikap jual mahal, padahal vaginanya sudah membasah, bertanda dia terangsang."
"Apalgi kalau melihat barangku ya Mah?" tanyaku menggoda.
"Tapi aku ragu barangmu bisa main dua kali," tanya isteriku sambil dengan tiba-tiba melahap semua kemaluanku.

Sontak saja aku kaget bukan kepalang melihat serangan fajar tersebut. Kurasakan gigi kecil isteriku yang mengeret-eret batang zakarku. Sementara itu tangannya mulai menelusup ke pantatku, meremas-remasnya. Kini isteriku yang semula lembut menjadi binal, tangan yang satu meremas-remas pantatku, tangan yang lain meremas batang zakarku, sementara kepalanya naik turun.

"Argh.. Ach.. Ah.. Huh, ach..." tak urung aku yang pendiam menjadi ceriwis, aku jadi kaget sendiri.

Sambil menghisap, mengenyot, menjilat-jilat helmku. Tak puas dengan semuanya, seakan ingin segera mengeluarkan semua isi maniku. Akupun tak kuasa menahan gejolak dalam darahku. Sambil meremas-remas yang ada disekitarku, kakiku menggelinjang-gelinjang, seakan-akan kontolku bertambah panjang dan panjaang.. Hampir selama setengah jam ini isteriku ngenyot barang mainannya, seakan baru dibelinya dari pasar johar.

"Mach.. Akhu.. U. Uu. U.. Mahu.. Keluarr..." aku mengigau atau entah apa namanya.

Seiring dengan itu, semua ototku terasa mengeras dan kaku, apalagi kontolku. Isteriku dengan sigap diam ditengah-tengah batang zakarku, yang memang tidak bisa ngenyot semuanya. Seperti selang air yang ditahan, aliran air maniku terasa berjalan, menggelembung di tengah batang zakarku, dan akhirnya menyemprot keluar dengan derasnya. Tidak setetespun keluar, karena memang isteriku sudah langsung menelannya sebagai jamu. Sementara itu aku masih meregang, seperti hendak meregang nyawa saja dan perlahan-lahan seluruh tubuhkupun lemas tak berdaya. Selama 10 tahun perkawinan ini, baru ini melihat isteriku sebinal itu. Setelah beberapa saat, kamipun beristirahat.

"Jamu air mancur, nich.. Enak bener. Kayak telur ayam bangkok," kata isteriku manja penuh kepuasan, melihat suaminya meregang tubuh.
"Kamu kenapa mah, tumben galak banget," tanyaku.
"Nggak, aku cuma bayangin, pisangmu ini disayang cewek lain. Mungkin kalo bisa dicopot, bisa buat rebutan ngenyotnya. Yang satu ingin ngenyot, yang satu ingin dimasuki, yang satu ingin buat mainan. Kayaknya asik yang Mas, kalo dipinjam-pinjam..." kata isteriku panjang lebar.
"Hus.. Emang gue cowok apaan. Gede-gede begini, cuma kamu yang ngerasain".
"Tapi aku kalo mbayangin Mas bersetubuh dengan cewek lain, kayaknya aku cemburu, tapi penuh nafsu. Suatu kenikmatan sendiri melihat suaminya menyentuh cewek lain".
"Contohnya sama siapa?" pancingku.
"Yach, nggak jauh-jauh dululah, seumpama sama Mbak Nina, kayaknya dia akan melem merek juga"

Aku kembali terdiam. Membayangkan wajah dan tubuh Mbak Nina, kakaknya isteriku, walaupun tidak cantik, namun memiliki body yang sintal putih, wajah yang bersih dan selalu di make up. Itu hanya luarnya saja, kalau dalamnya.. Tanpa sadar pikiranku mulai menerawang jauh memikirkan Mbak Nina yang putih itu. Perlahan-lahan peniskupun mulai tumbuh lagi, semakin lama semakin keras. Dan isterikupun menyadari itu, dengan berdirinya kontolku, diapun merebahkan diri di sampingku, pasrah dan penuh harap.

Tanpa pikir panjang lagi, akupun menindihnya, mengecupnya, menyayangi seluruh tubuhnya, seakan tubuh Mbak Nina kupagut bibirnya, kuremas buah dadanya, kusentuh selangkangannya. Hanya desahan pelan yang dia keluarkan. Akupun segera menyiapkan senjataku, dengan menekan sepenuhnya pangkal kontolku, batangnya semakin keras dan kuat. Kutuntun perlahan masuk gua sempit dan lembab itu, pelan namun pasti. Karena sudah biasa, isterikupun mulai meredup matanya, ngomongnya sudah tidak beraturan, tangan dan kaki entah meninju apa.

"Ahh.. Mass.. Apa ini.. Kenapa bisa hangat.. Ach.. Aw.. Aw.. Aw..." isteriku manja sekali.

Rintihannya semakin lama semakin keras dan bernafsu.

"Mas.. Aw.. Ww.. Ww.. Hh.. Hh. Hh..."

Walaupun sudah agak kendur, tetapi klep isteriku masih lumayan juga. Daya cengkeramnya masih kuat. Kudorongkan semua penisku sampai ke pangkalnya, hingga tak tersisa.

"Aww..." menjerit kecil, lalu isterikupun diam tak bernapas, tak ingin melepas kenikmatan yang ada, namun kenikmatan itu selalu menghampirinya.

Pantas saja isteriku jalannya agak pekoh, lha wong tengahnya aja diganjeli pisang segede ini hampir 10 tahun. Lalu akupun mulai tancap cabut, naik turun sebagaimana orang kawin lazimnya. Beberapa menit kemudian banjirlah daerah kemaluannya. Seperti biasanya isteriku, hanya beberapa menit saja. Sedangkan aku minimal butuh setengah jam untuk menyemprotnya. Walaupun agak pegal juga setelah disedot habis, tak urung jua maniku menyemprot sebanyak banyaknya.. Isteriku lemas, puas, sedangkan hatiku masygul.. Hambar.. Sudah 3 hari Sabtu ini aku memamerkan pisangku. Karena iseng dan tidak ada kerjaan.

Isteriku baru pergi bekerja, sementara anakku sudah sekolah dan akan pulang agak sorean karena ada acara Pramuka. Suami dari kakaknya isterikupun sedang bekerja di perusaahaan swasta. Dengan berdiri di depan jendela kamarku yang menghadap jalan, pagi-pagi para cewek yang pergi ke pabrik dengan pakaian rok mininya, kupertontonkan pisangku. Jika mereka melihat ke jendela untuk mematut diri, aku selalu menghindar, masih takut-takut. Ada rasa puas tak terhingga jika aku berhasil memamerkan barangku. Walaupun hanya pandangan sebalik saja, artinya aku bisa melihat mereka, tetapi mereka tidak bisa melihat aku.

Sedang asik-asiknya aku mempertontonkan pisangku sambil ku elus-elus, tiba-tiba dari belokkan rumah Mbak Nina datang, rupanya habis belanja dia. Dan kulihat dia menatap ke arah jendela, kaget mungkin atau lebih tepatnya terpana. Aku sendiri kaget dibuatnya. Untuk sementara kami hanya saling berpandangan, sementara dia tidak lepas dari pandangannya kepada pisangku. Lalu dia kembali berjalan memasuki rumah sambil menundukkan kepalanya. Entah malu entah kenapa, sementara aku duduk ke ranjang dengan jantung berdegup sangat kencang.
Kutenangkan pikiranku, kerebahkan tubuhku diranjang. Perlahan-lahan pikiranku mulai tenang, dan akupun tertidur. Pukul 11.00 WIB, aku terbangun setengah kaget dan perut kelaparan. Kucari-cari makanan di dapur, rupanya isteriku tidak masak. Lalu aku ke belakang, ke rumah kakakku. Kuambil nasi, seperti biasa kalau isteriku tidak masak, aku dan anakku selalu menumpang makan di tempat kakakku itu. Sambil makan dengan lahapnya, aku menonton TV di rumah kakakku itu. Kudengar kamar mandi seperti ada orang yang sedang mandi, gebyar gebyur.. Lalu terdengar pintu kamar mandi dibuka, setelah itu rupanya kakakku baru habis mandi. Agak kaget dia karena tidak mengira kalau ada aku sedang menonton TV. Sambil agak berlari, dia menundukkan kepalanya malu, ya tentu saja karena dia hanya menutupi tubuhnya dengan handuk kecil saja.

"Maaf ya Dik..." katanya lirih sambil berlari kecil.

Entah apa maksudnya. Sebetulnya aku yang harus minta maaf karena melihat tubuhnya dibalut handuk kecil. Sepintas yang terihat sebagian kecil buah dadanya sampai pangkal pahanya, tentunya pembaca dapat membayangkan gambarannya. Sementara buah dadanya yang lain (tidak tertutupi) dia kempit dengan kedua belah tangannya, tentu saja tidak bisa menutupi seluruhnya dan terlihat belahannya yang montok. Belahannya saja sudah montok apalagi seluruhnya. Sementara bagian bawahnya terlihat pahanya yang putih mulus bersih. Teringat perkataan isteriku beberapa malam yang lalu, melihat tubuh kakakku yang putih mulus bersih perlahan-lahan pisangkupun mulai menari-nari.

Tak kuasa aku menahan nafsuku, mungkin karena pisangku yang terlalu besar, atau karena isteriku sudah mengijinkan aku mencoblos cewek lain, jangan yang jauh-jauh dulu seperti Mbak Nina dulu. Panasya siang itu membuatku gerah, segera kubuka baju dan celanaku. Kulihat kontolku sudah menyebul keluar dari celana dalam. Dengan jantung yang berdebar keras, kuhampiri kamar kakakku. Kubuka pintunya dan.. Kakakku menjerit kaget. Rupanya dia habis berdandan, namun masih memakai handuk kecilnya. Lebih kaget lagi melihatku dibalik kaca hanya memakai celana dalam saja sementara sebagian kontolku sudah menyembul keluar.

"Mau apa Dik?" tanyanya kaget dan bingung.

Masih menatapku dari balik kaca. Aku diam saja sambil terus menghampirinya. Ketika dia membalikkan tubuhnya, langsung kudekap sambil terus memandang wajahnya yang bersih.

"Jangan.. Jangan Dik, kamu sudah gila ya?" tanyanya sambil meronta.

Aku tidak mempedulikannya. Kuciumi wajah dan lehernya. Dia hanya meronta-ronta masih sambil berteriak-teriak.

"Kalau nggak mau berhenti, aku teriak!" ancamnya.
"Teriak saja Mbak, biar semua orang tahu kalau kita berdua sudah beginian," jawabku.

Rupanya dia berpikir panjang, dan menghentikan ancamannya. Selama dia berpikir, kubalikkan tubuhnya yang mulus, kutengkurapkan di pinggir ranjang, sambil membuka handuknya. Kulihat tubuhnya benar-benar mulus, sementara kakakku hanya diam saja seribu bahasa, entah apa yang ada dipikirannya. Setelah dia tidak meronta dan tidak mengancamku lagi, aku baru tenang dan mulai memeluknya dari belakang.. Kakakku meredup matanya, rupanya menikmati kehangatan ini. Kuciumi wajah dan lehernya dari belakang, sambil menikmati kehangatan tubuhnya yang mulus.

"Dik, kenapa kamu melakukan ini..?" tanyanya.
"Karena Mbak cantik, perlu dilindungi dan dikagumi".
"Tapi kenapa harus begini?"
"Memang harus begini cara mengagumi Mbak, dengan mencintainya sepenuh hati," kataku sambil terus menciumi punggungnya, menggelinjang Mbak Nina.
"Maksudku, kenapa harus sekarang beginiannya?" tanyanya manja sambil menutup kedua belah matanya.

Malu diperlakukan manja seperti itu. Aku jadi mengerti, selama ini Mbak Nina juga menaruh hati padaku. Makanya setiap menatapku dia selalu menundukkan kepalanya.

"Aku takut Mbak tidak mau menerimaku," kataku.
"Setelah lihat kontolmu, mana mau yang menolakmu?"
"Jadi Mbak lihat kontolku ya?" tanyaku penasaran.
"He-eh, di kamar mandimu yang terbuka itu, aku pada waktu itu nggak masak nasi, nggak sengaja aku lihat kamu lagi mandi, kulihat kontolmu yang lemas. Lemas saja sudah panjang gitu, apalagi kalau keras. Makanya ketika kulihat di jendela itu, aku kaget setengah mati. Apa itu ditujukkan kepadaku apa nggak, tapi aku jadi malu takut geer-an. Makanya aku masuk sajahh..." katanya lirih.

Karena kalimat terakhir itu aku menelusupkan tanganku ke dadanya yang terhimpit antara tubuhnya dan kasur. Kuremas penuh kasih sayang.

"Ach.. Kenapa kamu sejahat ini, menyiksakku.. Ahh.. Ahh," rintihnya manja.

Kutarik tanganku yang satunya, kugapai tangannya yang meremas-remas seprei. Kutuntun ke kejantanannku yang sudah menegang, yang hendak merasakan sentuhan cewek lain pertama kalinya. Ketika dia memegang kontolku, langsung menarik kembali tangannya.

"Aww... apa itu Dik? Gila, gede banget.. Takut ach, takut, takut..." berulang-ulang dia katakan itu tanpa berani menatapku, apalagi menatap kontolku. Semakin bernafsu saja aku, kutarik kembali tangannya dan kupaksa memegangnya. Pertama-tama dia hanya memegangnya tanpa melepasnya sedetikpun, lalu kerasakan pegangannya semakin erat. Tangannya yang mungil tidak bisa sepenuhnya melingkari kontolku. Lama-lama dia meremas-remas kontolku dengan penuh nafsu sambil mengocoknya, masih belum berani melihatnya.

"Ahh..." tanpa kusadari aku menyeringai keenakan.

Keselipkan tanganku diantara kedua bokongnya yang bulat padat berisi. Sampailah aku pada klitorisnya, besar juga. Kupermainkan sambil kupijit-pijit, kakakku yang montok itu langsung menggelinjang lalu melepaskan kontolku. Tapi tidak, dia memindah tangannya ke pangkal kontolku sambil mencengkeram sekuat-kuatnya. Lalu menuntunnya ke arah liang vaginanya. Aku sudah pahan maksudnya. Tanpa ragu lagi aku dorongkan kontolku ke vaginanya yang kecil, menganga agak berair minta dimasuki kontol. Slep, separuh kontolku sudah masuk, karena agak susah memasukkannya karena sempitnya vagina kakakku.

Kakakku membenamkan wajahnya ke kasur, sambil meremas seprei dan apapun di sekitarnya, seakan-akan mau merobeknya. Rupanya kakakku nggak mau kedengaran jeritannya, terbukti dari erangannya yang teredam di kasur. Asik juga ngontoli kakakku dari belakang ini. Cengkeramannya begitu kuat sekali, spare part made in Japan asli. Seiring dengan erangan kakakku, kutarik dan kebenamkan berulang-ulang kontolku, mencari jalan masuk.

"Argh.. Aw.. Aw.. Aw.. A.. A.. A..." erangan kakakku merintihrintih berulang-ulang.

Seakan-akan menolak, menolak untuk berhenti. Nafasnya sudah memburu, keringatnya bercucuran dimana-mana, tubuhnya bergetar tidak beraturan, kepalanya menoleh kesana-kemari, sedangkan kakinya mulai menggeliatgeliat, di buka pahanya lebar-lebar seakan tidak puas hanya separuh kontolku yang masuk. Kembali aku paham maksudnya, pelan tapi pasti kudorongkan kontolku sepenuh tenaga. Lhess.. Sampai terdengar seiring kontolku yang sudah masuk full. Kakakku bagaikan orang gila yang kesurupan.

"Aww.. Aphaa ini, apa ini.. Ngganjal gede, anget, kasar, asfh..." entah apa lagi yang dia omongkan.

Aku sampai kesulitan mengejanya dalam tulisan. Yang jelas, seluruh tubuhnya sudah basah kusup bagaikan orang mandi. Aku sendiri menikmati vaginanya yang hangat, mencengkeram kuat dengan denyutdenyutnya yang jelas terasa meremas kontolku. Aku mendiamkan sahaja keadaan ini, kurasakan tubuh kami menyatu, tidak ada dua tubuh. Yang kurasakan aku bersatu sama dia, seolah-olah aku memasuki jiwanya. Tiba-tiba dia melepas semua yang ada, aku agak kecewa. Tetapi dia ternyata membalikkan tubuhnya dan naik ke ranjang sambil mengangkat kedua dengkulnya dan membukannya lebar-lebar. Tanpa berani membuka matanya, dia memohon kepadaku..

"Mashh.. Sini Mas... sayangi ahu, nikmati ahu, tindih ahu, milikku akhu..." katanya tidak sadar kalau memanggilku dengan sebutan "Mas".
"Kenapa Mbak, kamu ingat suamimu?" tanyaku kuatir.
"Nggahh.. Aku ingin kamu jadi suamiku, kalau.. Suami khan boleh menindih isterinya, mahanya ahu panggil kamu 'Mash'... cepahh.. Sinnii dhong.. Malah ngobrol aja, mau hawin afa arisan..." katanya sudah tidak jelas ucapannya.

Tanpa pikir panjang lagi aku tindih dia, kulumat bibirnya, mula-mula dia menolak, karena masih malu melihat wajahku. Tapi akhirnya dia membalas lumatanku. Ternyata dia lebih liar dari perkiraanku. Aku dilumatnya habis-habisan, sementara tangannya mengocokngocok kontolku tanpa bimbinganku lagi. Kontolku yang sudah basah karena vaginanya, sampai keluar otot-otonya seperti akarakar pohon yang menjalan di batang pohon. Dibimbingnya kontolku ke vaginanya, less.. Kembali dia menjerit tertahan ketika semua kontolku masuk. Gilanya kumat lagi, apalagi setelah aku menaik turunkan pantatku, menancapkan dan menarik kembali kontolku.

"Af.. Ah.. Ah.. Aw.. Aw.. Aw.. Aww.. Aww..." rintihnya keenakan.

Hampir sepuluh menit berlalu, kasur yang kami buat alas sudah basah oleh keringat kami berdua. Tiba-tiba Mbak Nina merengkuhku dan memelukku, kedua kakinya mencengkeram pingganggku erat-erat, sementara mulutnya menggigit pundakku. Sangat perih kurasakan, tetapi aku maklum bahwa dia ingin melampiaskan kenikmatan itu. Tubuhya tiba-tiba bergetar hebat, seperti seorang yang terserang ayan, menggelinjang-gelinjang apa adanya.

Bayangkan saja, tubuh yang montok itu, bisa menggelinjang tanpa menapak ke kasur! Kembali kurasakan vaginanya mencengkeram erat kontolku lebih dari yang tadi, hal itu membuatku sama-sama menggelinjang. Tanpa kusadari kupeluk dia lebih erat sambil meremas pantatanya yang montok. Beberapa saat kami seperti dua orang yang sudah mati. Kurasakan aku seperti mau kencing.. Dan akhirnya akupun mengencingi Mbak Nina.. Semburannya sangat kuat, sampai-sampai Mbak Nina menjerit lemah..

"Trus.. Trusshh.. Semprot yang bannyakhh..." katanya.

Setelah itu, tubuh kamipun melemas.. Kulihat Mbak Nina yang kelelahan, sambil tersenyum sangat puas, matanya yang dari tadi tertutup perlahan-lahan terbuka.

"Makasih, ya Dik. Kamu hebat banget, aku dibuat melayang-layang. Kalau tahu kamu punya pisang ambon sebesar itu, aku dari dulu minta," katanya manja.
"Yah.. Sama-sama Mbak, akupun sebenarnya jika melihat Mbak Nina yang montok, dengan pepaya yang kenyal, kontolku selalu berdiri. Makanya lain kali kalau mau, ngomong aja ya..?" kataku.
"Habis, punyamu gede banget sih, kayak punya arab. Aku jadi ngeri. Ngeri keenakan".
"Udah dulu ya Mbak, ntar anak-anak udah pulang," kataku sambil menutupi tubuhnya dengan selimut.

Akupun memakai celanaku yang di lantai.

"He-emh.. Tapi janji ya, Sabtu depan kamu pamerin aku lagi," pintanya.
"Pamerin apanya, Mbak?"
"Kontolmu".
"Iya," jawabku sambil keluar kamarnya, menuju kamarku lalu akupun tertidur lelap.

Semenjak saat itu, aku selalu memamerkan barangku di depan kakakku. Walaupun secara tidak langsung, dengan memakai celana ketat, kuperlihatkan tonjolan diselangkangan. Mbak Nina hanya senyam-senyum saja, dan senggama kamipun berlangsung tiap Sabtu, hingga kini.

Tamat

mbak yan kakak iparku
Mbak Iin kakak iparku
Sudah lama aku mengagumi Mbak Iin (biasa dipanggil Mbak In), kakak dari Nana istriku, orangnya tidak terlalu tinggi sekitar 160 cm tingginya, dengan wajah cantik alami, kuning langsat dan yang membuatku terpesona adalah buah dadanya yang begitu padat (belakangan baru aku ketahui kalau ternyata ukurannya 38C), ditambah dengan body-nya yang sintal menambah kesan seksi.

Dibandingkan dengan istriku Nana, dia lebih seksi dan dewasa, karena profesi dia sebagai agen *** (edited) yang mengharuskan dia ramah dan mudah bergaul dengan lainnya. Usianya hanya satu tahun lebih tua dari usiaku yang 27 tahun. Selama ini Mbak In sudah kuanggap sebagai kakak sendiri, karena dia memang selalu menjaga jarak dan bersikap anggun, sehingga aku semakin menghormatinya, meskipun di dalam hati ada hasrat liar untuk menikmati kemolekan tubuhnya. Meskipun sudah menikah dan punya satu anak, tetapi postur tubuhnya masih tidak berubah, bahkan bertambah padat karena terus dilatih dengan olahraga yang teratur.

Hari Sabtu itu di rumahku suasananya sepi, Nana masuk kerja karena tutup buku di kantornya, sedangkan aku sendirian di rumah nonton TV, di luar hujan turun dengan derasnya disertai petir yang menggelegar.
"Ding dong.., Ding dong.." bel rumahku berbunyi.
"Ah, siapa sih hujan-hujan begini ngganggu orang saja..!" pikirku sambil malas mendekati pintu depan.
Ternyata Mbak In di luar pagar kehujanan dengan blazer-nya yang basah kuyup, segera kubuka pintu pagar dan mempersilakan dia segera masuk.
"Sorry Hend, aku mampir kesini, abis Mas Roes (suaminya) belum pulang dari menjemput si Puput (anaknya)." katanya sambil menggigil kedinginan.

Tanpa menunggu jawabanku, Mbak In langsung masuk dan melepas jas luarnya yang basah, sehingga terlihat baju dalamnya yang tipis dan basah, memperlihatkan lekuk tubuhnya yang indah. BH hitam kelihatan membayang di balik baju putihnya, sementara tonjolan di dadanya seolah menantang, karena baju basah itu begitu menempel di tubuhnya. Sungguh pemandangan yang sangat indah yang tidak disangka-sangka dapat kusaksikan di hari itu.
"Mbak In mandi aja dulu dengan air hangat, biar tidak masuk angin, nanti kuambilkan bajunya si Nana.." kataku setelah tersadar dari ketakjuban.

Ketika Mbak In mandi, kucarikan baju Nana yang kira-kira cukup untuk dia dan terutama yang kelihatan seksi, atau paling tidak dapat menikmati lebih lama keindahan tubuh yang telah lama kuidamkan, apalagi perkiraanku dia pasti tidak akan memakai celana dalam dan BH-nya yang basah, sedikit banyak pasti akan segera melihat sebagaian tubuhnya yang indah.
"Hend.., tolong handuk dong..!" teriak Mbak In dari kamar mandi.
"Ah, begonya aku sampai lupa tidak menyiapkan handuk dulu..!" batinku.
Sambil berlari kuambil handuk dari dalam lemari dan kuberikan ke Mbak In yang sudah menunggu di pintu kamar mandi, tetapi dasar sial (atau keberuntungan), karena terburu-buru aku tidak melihat lantai licin karena tetesan air hujan dari tubuh Mbak In yang basah, sehingga aku terpeleset. Akibatnya dengan tanpa dapat dikontrol lagi, tubuhku terhuyung-huyung menerobos ke pintu kamar mandi dimana Mbak In sudah menunggu dalam keadaan telanjang.

"Brak..!" tubuhku menabrak pintu dan menerobos masuk ke dalam tanpa dapat ditahan lagi oleh Mbak In, langsung aku terduduk di lantai kamar mandi, sementara Mbak In berdiri telanjang di depanku tertegun sampai lupa menutup sebagian tubuhnya yang sensual.
Sesaat kami berdua tertegun tanpa berbuat apa-apa, akhirnya aku sadar dan memberikan handuk itu ke Mbak In.
"Sorry Mbak.." kataku segera menyerahkan handuk yang masih kupegang, terus keluar dari kamar mandi dengan terpincang-pincang.
"Ah nggak apa-apa kok, kan kecelakaan, nggak sengaja.." katanya memaklumi peristiwa tadi.

Setelah mengganti celana pendekku yang basah, di depan TV aku tidak dapat berkonsentrasi. Meskipun mataku tertuju ke layar TV, tetapi bayangan indah tubuh Mbak In sungguh sangat menggoda dan terus membayang di benakku. Kemudian Mbak In keluar dari kamar mandi dengan berbalut handuk yang tidak mampu menutupi seluruh tonjolan bukit di dadanya.
"Ini Mbak bajunya.." kataku masih gemeteran sambil memberikan daster (lebih tepatnya baju tidur) milik Nana, sambil langsung ke dapur mengambil air minum untuk menenangkan diri.
Kulihat pintu kamar belakang (kamar kosong untuk keluarga kalau bermain atau menginap) gelap dan tertutup, "Ah, dia masih ganti baju, atau mungkin langsung tidur.." pikirku.

Aku langsung menuju kamarku yang pintunya setengah terbuka, dan, "Aaahh.." teriak Mbak In.
Ternyata dia berdiri di depan kaca rias tanpa sehelai benang pun melekat di tubuh indahnya, balutan handuknya sudah dilepas, tetapi masih belum memakai daster yang kuberikan tadi. Tangannya berusaha menutupi bagian tubuhnya yang sempat ditutup, tetapi itu tidak berhasil dengan baik, sehingga aku masih dapat melihat tubuh telanjangnya untuk kedua kalinya dengan jelas, apalagi lampu kamar yang begitu terang, jauh lebih terang dari lampu kamar mandi, sehingga sangat jelas terlihat kemolekan dan keseksian tubuhnya.

Sebagai laki-laki normal, langsung saja alat kejantananku bereaksi keras melihat pemandangan indah tersebut.
"Sorry Mbak, aku.. aku.. kira Mbak di kamar belakang.." kataku gugup langsung keluar dan menutup pintu kamar, masih sempat kulihat dia tersenyum yang tidak dapat kuterjemahkan artinya, bingung kenapa dia di kamar utama.
"Hend.., tolongin Mbak dong..!" teriaknya dari dalam kamarku.
Perlahan kubuka pintu kamar, takut kalau kejadian tadi terulang lagi, tetapi ternyata dia duduk di kursi di depan meja rias sambil menyisir rambutnya yang masih basah dan mengenakan baju tidur yang kubawakan tadi.

"Masuk aja Hend, nggak usah malu-malu.." katanya pelan dan tenang.
Agak ragu aku melangkah masuk ke kamarku sendiri. Mbak In berdiri mendekatiku, dan langsung memelukku, kurasakan dadanya menekan tubuhku, terasa hangat dan kenyal.
"Hend.., sudah lama aku menginginkan saat-saat ini, aku tahu kamu selalu berusaha mencuri pandang.." katanya lembut.
Aku tidak tahu harus berbuat apa, karena seolah dia menangkap basah pikiranku. Kupeluk balik dia dan kuusap punggungnya. Akhirnya aku tidak dapat menahan gejolak lagi ketika tangan Mbak In mulai mengusap kejantananku yang sudah menegang sejak kehadirannya dirumahku.

Dengan penuh nafsu, kubuka baju tidur yang belum lama dipakainya dan kusibakkan rambutnya yang basah dan mulai kucium leher jenjangnya, kujilati kulit halusnya, sudah lama aku mendambakan kesempatan indah ini.
"Aaaghh.., ss.. shh..!" desahnya sambil meremas batang kejantananku.
Tidak kusia-siakan kesempatan ini, tanganku mulai mengelus dan meremas payudaranya yang besar dan indah yang sudah lama kuimpikan, begitu kenyal dan padat, meskipun sudah memiliki satu anak. Kuturunkan ciumanku ke pundaknya, terus turun lagi, tetapi tiba-tiba tubuhnya merosot dan berjongkok di depanku, ditariknya celana pendek sekaligus celana dalamku ke bawah, sehingga menyembullah kejantananku yang sudah lama menegang. Sejenak dia tertegun melihat alat vitalku yang 17 cm panjangnya dan melengkung ke bawah.

"Hend, gede banget.., jauh lebih gede dari punya Mas Roes dan lagi bentuknya aneh, pasti enak deh di dalam.." katanya sambil menengadah menatapku, dan tersenyum simpul.
Sedetik kemudian dijilatinya ujungnya dan dimainkannya lidah mungil itu, menari-nari di kepala kemaluanku. Terus dijilati dari ujung hingga pangkal, kemudian turun ke kantong kemaluanku. Kuangkat kaki kananku untuk memberinya jalan supaya lebih mudah menjilati. Kemudian jilatannya naik lagi ke atas hingga akhirnya dengan agak susah dikulumnya kepala kejantananku, perlahan tetapi pasti. Akhirnya, tiga perempat batang kejantananku masuk ke dalam mulut mungilnya. Sambil tangan kirinya mengusap-usap kantong kemaluanku, tangan kanannya memegang dan mengocok batang kemaluanku, sementara kepala batangku masih di dalam mulutnya dengan tidak lupa digoyang-goyangkan kepalanya ke kiri dan ke kanan, sungguh sensasi yang luar biasa.

"Aaahh.. oosshh.." erangku sudah hampir tidak tahan.
Kupegang rambutnya dan kudorong-tarik hingga kemaluanku dapat bergerak leluasa keluar masuk di mulut seksinya. Kuangkat tubuhnya dan kutelentangkan di ranjang, mulai kujilati puting di dadanya secara bergantian kiri dan kanan, kurasakan badannya menggelinjang-gelinjang keenakan. Terus jilatanku turun ke perut, lalu sampai ke pusar, dan akhirnya menyentuh rambut bawahnya sambil tanganku bermain di daerah liang kewanitaannya yang sudah basah. Lidahku mulai menjelajahi daerah kemaluannya, sengaja aku tidak langsung ke arah klitoris, tetapi berputar-putar di sekitar kemaluannya, terutama di lipatan pahanya, terus turun sampai ke lubang anus dan naik lagi, diangkatnya pinggulnya turun naik mengimbangi gerakan lidahku.

"Hen.. pleasse.. jangan.. goda.. aku.. begini.." desahnya sambil menarik rambutku, tetapi kata-katanya tidak kupedulikan.
Kuteruskan jilatanku mulai ke arah klitoris sambil kumasukkan tanganku ke lubang kenikmatannya, satu jari.., dua jari.., dan akhirnya tiga jari dapat masuk juga. Kugerakkan jariku keluar masuk sambil menjilat klitorisnya.
"Aaagghh.., sshh.., shh.." desahnya sambil menggoyang-goyangkan pinggulnya semakin liar, seliar kilatan dan guntur di luar yang mengiri irama permainan kami.

Akhirnya kuposisikan tubuhku di atasnya, kutindih tubuhnya, masih dapat kurasakan tonjolan di dadanya yang montok itu. Sementara tubuhku di atasnya, sedikit kuangkat pantatku untuk memberi jalan tangannya supaya dapat memegang kejantananku dan diusap-usapkannya ke liang senggamanya.
Tanpa menunggu lebih lama lagi, kudorong pantatku dan, "Bless..!" dan, "Aaauu..!" dia menjerit kesakitan.
Badannya menegang dan tangannya mencengkeram erat lenganku, kudiamkan sejenak. Kulihat dia memejamkan matanya, kubiarkan menikmati saat-saat seperti ini. Meskipun sudah mempunyai satu anak, tetapi liang kemaluannya masih tetap kencang seperti belum pernah melahirkan.
Perlahan ketegangannya mulai mengendur, pelan-pelan kutarik keluar batang kemaluanku, lalu pelan-pelan pula kumasukkan lagi, begitu seterusnya sehingga dia sudah dapat menyesuaikan iramanya, semakin lama semakin cepat kocokan batang keperkasaanku di dalam liang senggamanya, hingga semua masuk ke dalam, terasa menyentuh sesuatu di dalam, tetapi enak.
"Ooosshh.. ss.., yaa.. terus.. terus.. Hend..!" dia mulai mengerang dan menggelinjang semakin lama semakin tidak beraturan.
Kunaikkan badanku hingga posisi jongkok bertumpu pada lutut. Aku dapat melihat ekspresi wajahnya dan goyangan buah dadanya saat kukocok keluar masuk. Kakinya mengimbangi gerakanku dengan dinaikkannya ke pinggulku, lalu terus naik ke pundakku. Sesekali dipegangnya sendiri kedua bukit di dadanya, sehingga lebih menonjol dan kelihatan lebih seksi dari biasanya.

Sementara hujan di luar semakin deras, sederas keringat dan nafsu kami berdua, sampai akhirnya, "Ooogghh.., ya.. ya.. ya.. lebih cepat Hend, aku mau keluar.., ya.. terus.. ya.. begitu.. yaa..!"
Mbak In mencengkeram tanganku dengan kuat, kurasakan denyutan di dalam liang kewanitaannya. Rasanya seperti dipilin-pilin enak, aku tidak menghiraukan itu, masih terus kukocok keluar masuk meskipun dia sudah orgasme, sudah menjadi kebiasaanku kalau cewek keluar akan semakin meningkat tensi dan kocokanku.

Kubalikkan badannya hingga posisi dogie style, selanjutnya kumasukkan kejantananku ke liang senggamanya yang sudah basah itu, masih terasa seperti menyentuh ke dinding rahim, kupegang pantatnya yang padat, kutarik dan kudorong maju mundur. Aku mulai mengocok Mbak In lagi, meskipun sudah kelihatan lemas, tetapi masih menggairahkan. Dari belakang kuraih kedua buah dadanya yang menggelantung dan kugunakan sebagai pegangan untuk menggoyang-goyangkan badannya sambil sesekali kupilin-pilin putingnya yang kian membesar. Dari pantulan kaca rias, terlihat wajahnya yang meregang keenakan, tangannya mencengkeram pinggiran ranjang dengan kuatnya.

"Sss.. terus Hend.., cepaatt.. cepaatt..!" sambil mendorongkan badannya ke arahku untuk mengimbangi gerakanku yang semakin cepat dan keras, sesekali digoyangnya ke kiri dan ke kanan menambah sensual gerakannya yang semakin lama semakin liar.
Sesekali kutarik rambutnya ke belakang, semakin kujambak semakin liar gerakannya.
"Ya.., truss.. Hen.. trus.., Mbak.. ke.. ke.. luar.. laagii..!" desahnya sambil menggigit ujung bantal di depannya.
Kembali terasa dinding kemaluannya berdenyut, tetapi itu tidak kuhiraukan, malah kupercepat irama permainan kami.

Sebenarnya pada saat yang bersamaan aku hampir orgasme, tetapi kutahan sejenak dan pada saat itu dia menghentikan goyangannya, sehingga aku ada waktu untuk menurunkan tegangan di ujung kemaluanku. Perlahan kutarik keluar kemaluanku, dia langsung telungkup, kulihat keringat membasahi punggung dan sprei, kurebahkan diriku di sampingnya.
"Kamu gila Hen.., Mbak udah dua kali keluar, tapi punyamu masih tegang.." komentarnya sambil memegang dan mengocok perlahan kemaluanku yang basah oleh cairan kewanitaannya.
Kemudian dia bangkit dan diarahkannya kepalanya ke kemaluanku, dikulum dan dijilatinya batang kemaluan basah itu.

Tanpa menunggu lebih lama lagi, kutarik tubuhnya dan kuposisikan dia di atasku.
"Hend.., aku udah nggak kuat, beri aku istirahat sebentar..!" katanya sambil tetap memasukkan batang kemaluanku ke dalam mulut seksinya.
Kulirik jam di dinding, sudah pukul 14:30, berarti kami sudah bermain lebih dari setengah jam, sebentar lagi Nana datang (biasanya dia datang sekitar pukul 15:00 sore kalau hari Sabtu), jadi tidak ada waktu lagi untuk beristirahat, aku harus menuntaskan permainan, segera sebelum Nana pulang.

"Mbak.., sebentar lagi Nana datang, kita selesaikan aja sekalian, ntar Mbak bisa istirahat setelah ini.." kataku.
Tiba-tiba Mbak In berdiri dan keluar kamar, diambilnya wireless phone dan kudengar dia bicara dengan seseorang.
"Siang.., bisa disambungkan dengan Nana.. Nana, Hendra pesan akan keluar dan kembali jam lima sore.., ada perlu dengan temannya katanya. Telpon kantormu sibuk terus, dia telpon ke rumah.. Telpon dulu, barangkali sudah datang. Atau ke rumahku.. tapi.. aku lagi ada janji sama nasabah. Mas Roes ada kok.. Oke..?" sepotong-sepotong kalimatnya kudengar, tetapi dapat kutebak maknanya.
Kemudian dia masuk ke kamar lagi, langsung memeluk dan menciumi leherku.
"Kita aman sampai jam lima nanti.." katanya sambil tangannya mulai meremas batang kemaluanku lagi.
"Mbak nakal deh..!" kataku membalas ciuman bibirnya.

Tidak lama kemudian, Mbak In sudah menempatkan dirinya di atasku, dengan mudahnya kemaluanku sudah terbenam semuanya ke dalam tubuhnya. Perlahan tetapi pasti, Mbak In sudah mulai menggoyang pinggulnya, maju mundur, kiri kanan, berputar-putar, sementara tangannya meraba kantong kemaluanku, terasa geli dan nikmat. Aku masih diam tidak melakukan gerakan kecuali tanganku yang aktif meraba payudaranya yang kelihatan sempurna. Sesekali kupilin-pilin seperti mencari gelombang radio. Mbak In merubah gerakannya menjadi turun naik, sehingga batang kemaluanku keluar masuk liang senggamanya, terasa sekali jepitan otot kemaluannya di batang kejantananku.
"Sss.., yess.. akh.. sshh..!" desahnya mengiringi gerakan tubuhnya.

Beberapa saat kemudian, kurasakan remasan pada batang kemaluanku, ternyata Mbak In sudah orgasme untuk ketiga kalinya, langsung tubuhnya dijatuhkannya ke tubuhku.
"Sekarang giliranku.." bisikku.
Kupeluk tubuh montok Mbak In dengan erat, lalu pinggulku mulai turun naik melakukan kocokan ke lubang nikmatnya, nafasnya terdengar naik turun dekat telingaku. Aku tidak mempedulikan desahannya, justru menambah rangsangan bagiku, semakin dia mendesah semakin kuat genjotanku ke tubuhnya. Akhirnya ujung kemaluanku semakin menegang, dan dorongan di dalam tubuh semakin kuat untuk menyemburkan cairan panas dari kemaluanku.

Beberapa saat kemudian, kubisikkan ke telinganya, "Mbak aku mau keluar.." tanpa menghentikan gerakanku.
Kurasakan desakan keluar di ujung kemaluanku, dengan cepat kutarik keluar supaya spermaku tidak tumpah di dalam.
Tetapi, "Jangan ditarik Hen.., keluarin di dalam aja..!" katanya sambil merapatkan pinggulnya di atas pinggangku, sehingga aku tidak dapat mengeluarkan kejantananku dari dalam.
Akhirnya aku sudah tidak tahan lagi, dan, "Crot.. crot.. crot.." hingga 12 kali semprotan di dalam liang rahimnya.
"Aaauughh..!" jeritnya ketika kusemprotkan spermaku ke dalam lubang kenikmatannya.
Terasa bibir kemaluannya menyempit dan menjepit batang kejantananku ketika ujung kemaluanku itu berdenyut. Kudiamkan sesaat di dalam hingga kurasakan pijatan halus dari dinding kemaluannya, sungguh nikmat. Lalu kucabut keluar alat kejantananku yang sudah setengah lemas. Kurebahkan Mbak In di ranjang, lalu kujepitkan kemaluanku yang basah di antara buah dadanya yang montok sambil perlahan kugerakkan maju mundur. Terasa geli enak karena sudah berpelumas cairan kami berdua, dan lagi buah dada Mbak In mampu menjepit seluruh lingkaran kemaluanku, sesekali dijilatinya ujungnya dengan nakal.

Kami berdua terkulai lemas, tubuh Mbak In masih terkulai di atas tubuhku. Kami berdua sama-sama bersimbah peluh, dinginnya AC dan suasana hujan tidak mampu menahan gejolak diri kami. Mbak In kemudian meraih dan mengelus-elus kejantananku. Tiba-tiba kepalanya dicondongkan dan kembali alat kejantananku yang sudah agak lemas dan basah oleh spermaku dan cairan kewanitaannya dimasukkan ke dalam mulutnya, dikulumnya, dijilatinya seperti lollypop. Sungguh aku tidak tahan diperlakukan seperti itu. Akhirnya aku menyerah karena kegelian.

Jarum jam sudah menunjukkan 15:15, masih ada waktu beberapa jam sebelum istriku Nana sampai di rumah. Sambil berpelukan di ranjang, pembicaraan mengarah ke hal-hal pribadi yang selama ini tidak pernah dibicarakan, hingga akhirnya, "Kamu sungguh hebat Hend.., belum pernah aku diperlakukan oleh laki-laki seperti itu, apalagi dibandingkan dengan Mas Roes, jauh sekali.." katanya manis.
"Emang sebelumnya pernah dengan laki lain..?" tanyaku iseng, tetapi jawabannya sungguh diluar dugaan.
"Iya sih, just for fun aja.." jawabnya ringan tetapi cukup mengejutkanku, dan aku penasaran seberapa jauh petualang dia dalam melakukan hubungan seks.
Akhirnya dia bercerita tentang petualangan dia sebagai seorang agen eksekutif di sebuah perusahaan *** (edited).

Kami masih sempat main sekali lagi di bath tub kamar mandi sambil membersihkan diri. Setelah itu kami berdua duduk berpelukan sambil nonton TV di ruang tengah seperti layaknya dia istriku sambil melanjutkan cetita petualangannya. Tepat pukul 17:30, Nana istriku datang. Segera Mbak In masuk kamar belakang untuk berganti pakaian yang lebih sopan, supaya tidak mengundang kecurigaan Nana.

Setelah Nana mandi dan berganti pakaian, kami bertiga duduk di ruang tengah sambil mengobrol dan nonton TV, seolah tidak pernah terjadi apa-apa, hingga Mas Roes menjemput Mbak In untuk pulang pada jam 20:00, setelah menjemput Puput dari rumah kakeknya.

Sejak kejadian itu, kami sering melakukannya, baik di rumahnya ataupun di rumahku. Bahkan kalau ada dinas keluar kota, tidak lupa kami menyempatkan diri semalam berdua di hotel. Tanpa bermaksud menyepelekan dan melecehkan para rekan agen *** (edited), tetapi kisah ini memang sebenarnya terjadi.

Tamat

affair kakak ipar







Aku biasa dipanggil Adi dan usiaku sekarang 32 tahun. Aku sudah
beristri dengan 1 anak usia 2 tahun. Kami bertiga hidup bahagia
dalam arti-an kami bertiga saling menyayangi dan mencintai. Namun
sebenarnya aku menyimpan rahasia terbesar dalam hidup berumahtangga,
terutama rahasia terhadap istriku. Bermula pada saat beberapa tahun
yang lalu, ketika aku masih berpacaran dengan istriku. Aku
diperkenalkan kepada seluruh keluarga kandung dan keluarga besarnya.
Dan dari sekian banyak keluarganya, ada satu yang menggelitik
perasaan kelaki-lakianku; yaitu kakak perempuannya yang bernama Ima
(sebut saja begitu). Ima dan aku seusia, dia lebih tua beberapa
bulan saja, dia sudah menikah dengan suami yang super sibuk dan
sudah dikaruniai 1 orang anak yang sudah duduk di sekolah dasar.
Dengan tinggi badan 160 cm, berat badan kurang lebih 46 kg, berkulit
putih bersih, memiliki rambut indah tebal dan hitam sebahu, matanya
bening, dan memiliki suara agak cempreng tapi menurutku seksi,
sangat menggodaku. Pada awalnya kami biasa-biasa saja, seperti
misalnya pada saat aku menemani pacarku kerumahnya atau dia menemani
pacarku kerumahku, kami hanya ngobrol seperlunya saja, tidak ada
yang istimewa sampai setelah aku menikah 2 tahun kemudian dia
menghadiahi kami (aku dan pacarku) dengan sebuah kamar di hotel
berbintang dengan dia bersama anak tunggalnya ikut menginap di kamar
sebelah kamarku.
Setelah menikah, frekuensi pertemuan aku dengan Ima jadi lebih
sering, dan kami berdua lebih berani untuk ngobrol sambil diselingi
canda-canda konyol. Pada suatu hari, aku dan istri beserta mertuaku
berdatangan kerumahnya untuk weekend dirumahnya yang memang enak
untuk ditinggali. Dengan bangunan megah berlantai dua, pekarangannya
yang cukup luas dan ditumbuhi oleh tanaman-tanaman hias, serta
beberapa pohon rindang membuat mata segar bila memandang kehijauan
di pagi hari. Letak rumahnya juga agak jauh dari tetangga membuat
suasana bisa lebih private. Sesampainya disana, setelah istirahat
sebentar rupanya istriku dan mertuaku mengajak untuk berbelanja
keperluan bulanan. Tetapi aku agak mengantuk, sehingga aku meminta
ijin untuk tidak ikut dan untungnya Ima memiliki supir yang dapat
dikaryakan untuk sementara. Jadilah aku tidur di kamar tidur tamu di
lantai bawah. Kira-kira setengah jam aku mencoba untuk tidur,
anehnya mataku tidak juga terpejam, sehingga aku putus asa dan
kuputuskan untuk melihat acara TV dahulu. Aku bangkit dan keluar
kamar, tetapi aku agak kaget ternyata Ima tidak ikut berbelanja. Ima
menggunakan kaus gombrong berwarna putih, lengan model you can see
dan dengan panjang kausnya sampai 15cm diatas lutut kakinya yang
putih mulus. "Lho..kok nggak ikut ?" tanyaku sambil semilir kuhirup
wangi parfum yang dipakainya, harum dan menggairahkan, "Tauk
nih..lagi males aja gue.." sahutnya tersenyum dan melirikku sambil
membuat sirup orange dingin dimeja makan, "Anto kemana..?" tanyaku
lagi tentang suaminya, "Lagi keluar negeri, biasa..urusan
kantornya.." sahutnya lagi. Lalu aku menuju kedepan sofa tempat
menonton TV kemudian aku asik menonton film di TV. Sementara Ima
berlalu menuju tingkat atas (mungkin ke kamarnya).
Sedang asik-asiknya aku nonton, tiba-tiba kudengar Ima memanggilku
dari lantai atas; "Di..Adi..", "Yaa.." sahutku, "Kesini sebentar deh
Di..", dengan tidak terburu-buru aku naik dan mendapatinya sedang
duduk disofa besar untuk 3 orang sambil meminum sirup orangenya dan
menghidupkan TV. Dilantai atas juga terdapat ruang keluarga mini
yang lumayan tersusun apik dengan lantainya dilapisi karpet tebal
dan empuk, dan hanya ada 1 buah sofa besar yang sedang diduduki oleh
Ima. "Ada apa neng..?" kataku bercanda setelah aku sampai diatas dan
langsung duduk di sofa bersamanya, aku diujung kiri dekat tangga dan
Ima diujung kanan. "Rese luh..sini temenin gue ngobrol ama curhat"
katanya, "Curhat apaan?", "Apa! ajalah, yang penting gue ada temen
ngobrol" katanya lagi. Maka, selama sejam lebih aku ngobrol tentang
apa saja dan mendengarkan curhat tentang suaminya. Baru aku tahu,
bahwa Ima sebenarnya "bete" berat dengan suaminya, karena sejak
menikah sering ditinggal pergi lama oleh suaminya, sering lebih dari
sebulan ditinggal. "Kebayangkan gue kayak gimana ? Kamu mau nggak
temenin aku sekarang ini ?" tanyanya sambil menggeser duduknya
mendekatiku setelah gelasnya diletakan dimeja sampingnya. Aku bisa
menebak apa yang ada dipikiran dan yang diinginkannya saat ini. "Kan
gue sekarang lagi nemenin.." jawabku lagi sambil membenahi posisi
dudukku agar lebih nyaman dan agak serong menghadap Ima. Ima makin
mendekat ke posisi dudukku. Setelah tidak ada jarak duduk denganku
lagi, Ima mulai membelai rambutku dengan tangan kirinya sambil
bertanya "Mau..?", aku diam saja sambil tersenyum dan memandang
matanya yang mulai sayu menahan sesuatu yang bergolak. "Bagaimana
dengan orang-orang rumah lainnya (pembantu-pembantunya) dan gimana
kalau mendadak istriku dan nyokap pulang ?" tanyaku, "Mereka tidak
akan datang kalau aku nggak panggil dan maknyak bisa berjam-jam
kalau belanja." jawabnya semakin dekat ke wajahku.
Sedetik kemudian tangan kirinya telah dilingkarkan dileherku dan
tangan kanannya telah membelai pipi kiriku dengan wajah yang begitu
dekat di wajahku diiringi nafas harumnya yang sudah mendengus pelan
tetapi tidak beraturan menerpa wajahku. Tanpa pikir panjang lagi,
tangan kananku kuselipkan diantara lehernya yang jenjang dan
rambutnya yang hitam sebahu, kutarik kepalanya dan kucium bibir
merah mudanya yang mungil. Tangan kiriku yang tadinya diam saja
mulai bergerak secara halus membelai-belai dipinggang
kanannya."Mmhh..mmhh.." nafas Ima mulai memburu dan
mendengus-dengus, kami mulai saling melumat bibir dan mulai
melakukan French kiss, bibir kami saling menghisap dan menyedot
lidah kami yang agak basah, very hot French kiss ini berlangsung
dengan dengusan nafas kami yang terus memburu, aku mulai menciumi
dagunya, pipinya, kujilati telinganya sebentar, menuju belakang
telinganya, kemudian bibir dan lidahku turun menuju lehernya,
kuciumi dan kujilati lehernya, "hhnngg.. Ahhdhii.. oohh.. honeey..
enngghh" desahnya sambil memejamkan matanya menikmati permainan
bibir dan lidahku di leher jenjangnya yang putih dan kedua tangannya
merengkuh kepalaku, sementara kepala Ima bergerak kekiri dan kekanan
menikmati kecupan-kecupan serta jilatan di lehernya.
Tangan kiriku yang awalnya hanya membelai pinggangnya, kemudian
turun membelai dan mengusap-usap beberapa saat dipaha kanannya yang
putih, mulus dan halus untuk kemudian mulai menyelusup kedalam kaus
gombrongnya menuju buah dadanya. Aku agak terkejut merasakan buah
dadanya yang agak besar, bulat dan masih kencang, padahal setahuku
Ima memberikan ASI ke anak tunggalnya selama setahun lebih. Tanganku
bergerak nakal membelai dan meremas-remas lembut dengan sedikit
meremas pinggiran bawah buah dada kanannya. "Buah dadamu masih
kencang dan kenyal neng." kataku sambil kulepas permainan dilehernya
dan memandang wajahnya yang manis dan agak bersemu merah tanpa
kusudahi remasan tanganku di buah dada kanannya. "Kamu suka yaa.."
sahutnya sambil tersenyum dan aku mengangguk. "Terusin dong.."
pintanya manja sambil kembali kami berciuman dengan bergairah.
"Mmhh.. mmhh.. ssrrp.. ssrrp.." ciuman maut kami beradu kembali.
Tangan kiriku tetap menjalankan tugasnya, dengan lembut membelai,
meremas, dan memuntir putingnya yang mengeras kenyal.
Tangan kanan Ima yang tadinya berada dikepalaku, sudah turun
membelai tonjolan selangkanganku yang masih terbungkus celana katun.
Ima menggosok-gosokkan tangan kanannya secara berirama sehingga
membuat aku makin terangsang dan penisku makin mengeras dibuatnya.
Nafas kami terus memburu diselingi desahan-desahan kecil Ima yang
menikmati foreplay ini. Masih dengan posisi miring, tangan kiriku
menghentikan pekerjaan meremas buah dadanya untuk turun gunung
menuju keselangkangannya. Ima mulai menggeser kaki kanannya untuk
meloloskan tangan nakalku menuju sasarannya. Aku mulai meraba-raba
CD yang menutup vaginanya yang kurasakan sudah lembab dan basah.
Perlahan kugesek-gesekkan jari jemariku sementara Ima pasrah
merintih-rintih dan mendesah-desah menikmati permainan jemariku dan
pagutan-pagutan kecil bibirku serta jilatan-jilatan lidahku
dilehernya yang jenjang dan halus diiringi desehan dan rintihannya
berulang-ulang. Pinggulnya diangkat-angkat seperti memohon jemariku
untuk masuk kedalam CD-nya meningkatkan finger play ku. Tanpa
menunggu, jariku bergerak membuka ikatan kanan CD-nya dan mulai
membelai rambut kemaluannya yang lembut dan agak jarang. Jari
tengahku sengaja kuangkat dahulu untuk sedikit menunda sentuhan di
labia mayoranya, sementara ! jari telunjuk dan jari manisku yang
bekerja menggesek-gesekkan dan agak kujepit-jepit pinggiran bibir
vaginanya dengan lembut dan penuh perasaan.
Sementara Ima memejamkan matanya dan dari bibir mungilnya
mengeluarkan rintihan-rintihan juga desahan-desahan berkali-kali.
Kemudian jari tengahku mulai turun dan kugesek-gesekkan untuk
membelah bibir kemaluannya yang kurasa sudah basah. Berkali-kali
kugesek-gesek dengan sisi dalam jari tengahku, kemudian mulai
kutekuk dan kugaruk-garuk jari tengahku agak dalam di bibir
vaginanya yang kenyal, lembut dan bersih. Sementara Ima makin
merintih-rintih dan mendesah-desah sambil menggoyang-goyangkan
pinggulnya dengan gerakan naik turun kekiri dan kekanan "Ouuhh..
hemmhh.. sshh.. aahh.. Dhii.. eehhnakh.. honey.. oohh... ..sshh.."
rintih dan desahannya berkali-kali. Finger play ini kusertai dengan
ciuman-ciuman di leher dan bibirnya serta sambil kami saling
menyedot lidah. Setelah puas dengan posisi miring, kemudian aku agak
mendorong tubuhnya untuk duduk dengan posisi selonjor santai,
sementara aku berdiri dikarpet dengan dengkulku menghadapnya, Ima
agak terdiam dengan nafasnya memburu, perlahan kubuka kaus
gombrongnya, saat itulah aku dapat melihat tubuhnya separuh
telanjang, lebih putih dan indah dibandingkan istriku yang berkulit
agak kecoklatan, dua bukit kembarnya terlihat bulat membusung padat,
sangat indah dengan ukuran 36B, putih, dengan puting merah muda dan
sudah mengeras menahan nafsu birahi yang bergejolak.
Sambil tangan kiriku bertopang pada tepian sofa, mulutku mulai
menciumi buah dada kanannya dan tangan kananku mulai membelai,
menekan, dan meremas-remas buah dada kirinya dengan lembut. "Aahh..
hhnghh.. honeey.. enaak.. bangeet.. terruss.. aahh.. mmnghh..
hihihi.. auhh..adhi.." Ima bergumam tak karuan menikmati
permainanku, kedua tangannya meremas dan menarik-narik rambutku. Ima
mendesah-desah dan merintih-rintih hebat ketika putingnya
kuhisap-hisap dan agak kugigit-gigit kecil sambil tangan kananku
meremas buah dada kirinya dan memelintir-pilintir putingnya. Ima
sangat menikmati permainanku didadanya bergantian yang kanan dan
kiri, hingga dia tak sadar berucap "Adhii.. oohh.. bhuat ahkhuu puas
kayak adhikku di hotel dulu.. hhnghh.. mmhh..", ups..aku agak kaget,
tanpa berhenti bermain aku berpikir rupanya Ima menguping "malam
pertamaku" dulu bersama istriku, memang pada malam itu dan pada
ML-ML sebelumnya aku selalu membuat istriku berteriak-teriak
menikmati permainan sex-ku. Rupanya..Oke deeh kakak, sekaranglah
saat yang sebenarnya juga sudah aku tunggu-tunggu dari dulu.
"Adhii.. sekarang dong.. aahh.. akhu sudah nggak tahann.. oohh.."
ujarnya, tapi aku masih ingin berlama-lama menikmati kemulusan dan
kehalusan kulit tubuh Ima.
Setelah aku bermain dikedua buah dadanya, menjilat, menghisap,
menggigit, meremas dan memelintir, aku jilati seluruh badannya,
jalur tengah buah dadanya, perutnya yang ramping, putih dan halus,
kugelitik pusarnya yang bersih dengan ujung lidahku, kujilati
pinggangnya, "Aduuh.. geli dong sayang.. uuhh..", kemudian aku
menuju ke kedua pahanya yang putih mulus, kujilati dan kuciumi
sepuasnya "Aahh.. ayo dong sayang.. kamu kok nakal sihh.. aahh..",
sampailah aku di selangkangannya, Ima memakai CD transparan berwarna
merah muda yang terbuat dari sutra lembut, dan kulihat sudah sangat
basah oleh pelumas vaginanya. "Sayang.. kamu mau ngapain?" tanyanya
sambil melongokkan kepalanya kebawah kearahku. Aku tersenyum dan
mengedipkan mata kiriku kearahnya nakal. Dengan mudah CD-nya kubuka
ikatan sebelah kirinya setelah ikatan kanan telah terbuka, sekarang
tubuh Ima sudah polos tanpa sehelai benangpun menghalangi, kemudian
aku buka kedua kakinya dan kulihat pemandangan surga dunia yang
sangat indah.
Bibir vaginanya sangat bersih dan berwarna agak merah muda dengan
belahan berwarna merah dan sangat bagus (mungkin jarang digunakan
oleh suaminya) meskipun sudah melahirkan satu orang anak, dan
diatasnya dihiasi bulu-bulu halus dan rapi yang tidak begitu lebat.
"Oohh.. Ima.. bersih dan merah banget.." ujarku memuji, "hihihi..
suka ya..?" tanyanya, tanpa kujawab lidahku langsung bermain dengan
vaginanya, kujilati seluruh bibir vaginanya berkali-kali up and
down, tubuh Ima mengejang-ngejang "Aahh..aahh..dhhii..oohh..eenak
adhii..aahh..Anto nggak pernah mau begini..mmhh.." lidahku mulai
menjilati bibir vaginanya turun naik dan menjilati labia mayoranya
dengan ujung! lidahku. Ima menggeliat-geliat, mendesah-desah, dan
melenguh-lenguh, aku menjilati vaginanya sambil kedua tanganku
meremas-remas kedua buah dadanya "Hhnghh.. nngghh.. aahh.. dhii..
honey.." gumamnya sangat menikmati permainan lidah dan bibirku yang
menghisap-hisap dan menjilat-jilat klitorisnya berulang-ulang,
menghisap-hisap seluruh sudut vaginanya serta lidahku mendesak-desak
kedalam liang vaginanya berkali-kali tanpa ampun "Oohhnghh.. dhii..
more.. honey.. more.. ahh..", tangan kananku kemudian turun untuk
bergabung dengan bibir dan lidahku di vaginanya, sedikit-sedikit
dengan gerakan maju mundur jari tengahku kumasuk-masukkan kedalam
lubang vaginanya yang sudah becek, makin lama makin dalam kumasukkan
jari tengahku sambil tetap bergerak maju mundur.
Setelah masuk seluruhnya, jari tengahku mulai beraksi
menggaruk-garuk seluruh bagian dinding dalam liang surga Ima sambil
sesekali kugerakkan ujungnya berputar-putar dan kusentuh-sentuh
daerah G-spotnya, Ima meradang dan menggelinjang hebat ketika
kusentuh G-spot miliknya. Lidahku tidak berhenti menjilati sambil
kuhisap-hisap klitorisnya. Ima berusaha mengimbangi finger playku
dengan menggoyang-goyangkan pantatnya naik turun, kekiri dan kekanan
dan bibirnya tidak berhenti merintih dan mendesah
"Sshh..enghh..uuhh..Adhii..ouuhh..aahh..sshh..enghh.." tidak ada
kata-kata yang keluar dari bibirnya selain suara rintihan, erangan,
lenguhan dan desahan kenikmatan. Sekitar 20 menit kemudian liang
vaginanya berkedut-kedut dan menghisap "Oohhnghh.. ahh.. dhii..
akhu.. sham.. oohh.. henghh.. sham.. phaii.. aahh.. honey.. hengnghh
..aa..aa.." Ima berteriak-teriak mencapai klimaksnya sambil
menyemburkan cairan kental dari dalam vaginanya yang
berdenyut-denyut berkali-kali "serrtt.. serrtt.. serrtt.." kucabut
jariku dan aku langsung menghisap cairan yang keluar dari lubang
vaginanya sampai habis tak bersisa, tubuhnya mengejang dan
menggelinjang hebat disertai rintihan kepuasan, kedua kakinya
dirapatkan menjepit kepalaku, dan kedua tangannya menekan kepalaku
lebih dalam kearah vaginanya. Kemudian tubuhnya mulai lemas setelah
menikmati klimaksnya yang dahsyat "Aahh.. adhii.. eenghh.. huuhh.."
vaginanya seperti menghisap-hisap bibirku yang masih menempel dalam
dan erat di vaginanya. "Oh.. adi.. kamu gila.. enak banget.. oohh..
lidah dan hisapanmu waow.. tob banget dah.. oohh.." katanya sambil
tersenyum puas sekali melihat kearah wajahku yang masih berada
diatas vaginanya sambil kujilati klitorisnya disamping itu tanganku
tidak berhenti bekerja di buah dada kanannya, "Anto nggak pernah mau
oral-in aku..oohh.." dengan selingan suara dan desahannya yang
menurutku sangat seksi.
Sambil beranjak duduk, Ima mengangkat kepalaku, dan melumat bibirku
"Sekarang gantian aku, kamu sekarang berdiri biar aku yang bekerja,
oke ?!?" ujarnya, "Oke honey, jangan kaget ya.." sahutku tersenyum
dan mengedipkan mata kiriku lagi sambil berdiri, sekilas wajahnya
agak keheranan tapi Ima langsung bekerja membuka gesperku, kancing
dan retsleting celanaku. Ima agak terkejut melihat tonjolah ditengah
CD-ku, "Wow..berapa ukurannya Di ?" tanyanya, "Kira-kira aja
sendiri.." jawabku sekenanya, tanpa ba bi bu Ima langsung meloloskan
CD-ku dan dia agak terbelalak dengan kemegahan Patung Liberty-ku
dengan helm yang membuntal, "Aww.. gila.. muat nggak nih..?",
sebelum aku menjawab lidahnya yang mungil dan agak tajam telah
memulai serangannya dengan menjilati seluruh bagian penisku, dari
ujung sampai pangkal hingga kedua kantung bijiku dihisap-hisapnya
rakus "Sshh.. aahh.. Ima.. sshh.." aku dibuatnya merem melek
menikmati jilatannya. "Abis dicukur ya ?" tanyanya sambil terus
menjilat, aku hanya tersenyum sambil membelai kepalanya.
Kemudian Ima mulai membuka bibir mungilnya dan mencoba mengulum
penisku, "Mm.." gumamnya, penisku mulai masuk seperempat kemulutnya
kemudian Ima berhenti dan lidahnya mulai beraksi dibagian bawah
penisku sambil menghisap-hisap penisku "Serrp.. serrp.. serrp..",
tangan kirinya memegang pantat kananku dan tangan kanannya
memilin-milin batang penisku, nikmat sekali rasanya "Aahh.. sshh..."
aku menikmati permainannya, lalu mulut mungilnya mulai menelan
batang penisku yang tersisa secara perlahan-lahan, kurasa kenikmatan
yang amat sangat dan kehangatan rongga mulutnya yang tidak ada
taranya saat penisku terbenam seluruhnya didalam mulutnya. Agak
nyeri sedikit diujung helmku, tapi itu dikalahkan nikmatnya kuluman
bibir iparku ini. Ima mulai memaju mundurkan gerakan kepalanya
sambil terus mengulum penisku, "Sshh.. aahh.. enak.. Ima..a hh..
terus .. sayang.. uuhh.." gumamku, lidahnya tidak berhenti bermain
pula sehingga aku merasakan goyangan-goyangan kenikmatan dipenisku
dari ujung kaki sampai ke ubun-ubun, nikmat sekali, aku mengikuti
irama gerakan maju mundur kepalanya dengan memaju mundurkan
pinggulku, kedua tanganku ku benamkan dirambut kepalanya yang
kuacak-acak, Ahh nikmat sekali rasanya "Clop.. clop.. clop..".
Setelah itu dengan agak membungkukkan posisi tubuhku, tangan kananku
mulai mengelus-elus punggungnya sedangkan tangan kiriku mulai
meremas-remas buah dada kanannya, kuremas, kuperas, kupijit dan
kupuntir puting susunya, desahannya mulai terdengar mengiringi
desahan dan rintihanku sambil tetap mengulum, mengocok dan menghisap
penisku, "Ima.. mmhh.." rintihku. Mendengar rintihanku, Ima makin
mempercepat tempo permainannya, gerakan maju mundur dan
jilatan-jilatan lidahnya yang basah makin menggila sambil dihisap
dan disedot penisku, dipuntir-puntirnya penisku dengan bibir
mungilnya dengan gerakan kepala yang berputar-putar membuat seluruh
persendian tubuhku berdesir-desir dan aku merintih tak karuan.
"Aahh.. Ima.. oohh.. mmnghh.. gila benerr.. oohh.." Kuluman dan
hisapannya tidak berhenti hingga 20 menit, "Gila luh.. 20 menit gue
oral kamu nggak klimaks.. sampai pegel mulut gue." katanya sambil
berdiri dan melingkarkan kedua tangannya dileherku untuk kemudian
kami berciuman sangat panas, Ima sambil berdiri berjinjit karena
tinggiku 172 cm, sedangkan dia 160 cm. 5 menit kami menikmati ciuman
membara.
Kedua tanganku meremas-remas kedua bongkahan pinggulnya yang bulat
dan padat, namun kenyal dan halus kulitnya, lalu aku membopongnya
menuju kekamarnya sambil terus berciuman. Sambil merebahkan tubuh
mungilnya, kami berdua terus berciuman panas dan tubuh kami rebah
dikasur empuknya sambil terus berpelukan. Nafas kami saling memburu
deras menikmati tubuh yang sudah bersimbah keringat, berguling
kekanan dan kekiri "Mmhh.. mmhh.. serrp.. serrp..", tangan kananku
kembali meluncur ke buah dada kirinya, meremas dan memuntir-puntir
putingnya, Ima memejamkan mata dan mengernyitkan dahinya menikmati
permainan ini sambil bibirnya dan bibirku saling mengulum deras,
berpagutan, menghisap lidah, dan dengan nafas saling memburu.
Kuciumi kembali lehernya, kiri kanan, Ima mendesah-desah sambil
kakinya dilingkarkan dipinggangku dan menggoyang-goyangkan
pinggulnya. Penisku terjepit diantara perutnya dan perutku, dan
karena Ima menggoyang-goyangkan pinggulnya, kurasakan
gesekan-gesekan nikmat pada penisku, "Aahh..ahh..adi..cumbui aku
honey..ahh..puasi aku sayang..ehmm.." Ima mengerang-erang. Aku
kembali meluncur ke kedua buah dadanya yang indah dan mulai
menjilati, menghisap, menggigit-gigit kecil, meremas, dan memilin
puting susunya yang sudah mengeras "Ahh.. terus honey.. oohh..
sshh..", setelah puas bermain dengan kedua buah dada indahnya, aku
menuruni tubuhnya untuk melumat vaginanya, kujilati semua sudutnya,
up and down, kuhisap-hisap klitorisnya dan kujilat-jilat,
kuhisap-hisap lubang vagina dan klitorisnya sepuas-puasnya "Oohh..
oohh.. sshh.. aahh.. honey.. kham.. muu.. nakhal.. oohh.. nakhaal..
banget sihh.. henghh.. oohh.. emmhh.." desahan demi desahan diiringi
tubuhnya yang menggelinjang dan berkelojotan, vaginanya terasa makin
basah dan lembab, "Aaahh..dhhii..oohh.." vaginanya mulai
mengempot-empot sebagai tanda hampir mencapai klimaks, sementara
penisku sudah mengeras menunggu giliran untuk menyerang.
Aku melepas jilatan dan hisapanku di vaginanya untuk kemudian
bergerak keatas kearah wajahnya yang manis, kulihat Ima mengigit
bibir bawahnya dengan dahinya yang mengerenyit serta nafasnya yang
memburu ketika ujung penisku bermain di bibir vaginanya up and down
"Mmhh.. adi.. ayo dong.. aku udah nggak tahan nihh.. oohh.. jangan
nakal gitu dong.. aahh.." Ima menikmati sentuhan binal ujung penisku
dibibir vaginanya "Okhe.. honey.. siap-siap yaa.." kataku juga
menahan birahi yang sudah memuncak. Perlahan kuturunkan penisku
menghunjam ke vaginanya "Enghh.. aahh.. adi.. oohh.. do it honey..
oohh.." desahnya, Vaginanya agak sempit dan kurasakan agak kempot
kedalam menahan hunjaman penisku. "Slepp.." baru kepala penisku yang
masuk, Ima berteriak "Enghh.. aahh.. enak sayang.. sshh.. oohh.."
sambil mencengkeram bahuku seperti ingin membenamkan kuku-kuku
jarinya kekulitku "Ayo adi.. aahh.. terusss honey.. aahh.. aahh.."
vaginanya kembali mengempot-empot dan menghisap-hisap penisku tanda
awal menuju klimaks "Ahh.. Ima.. enak banget..itu mu.. ahh.." aku
menikmati hisapan vaginanya yang menghisap-hisap kepala penisku.
Tidak berapa lama kemudian Ima kembali berteriak "Aadii.. aahh..
khuu.. aahh.. aahh.. oohh.." Ima kembali berteriak dan merintih
mencapai klimaksnya dimana baru kepala penisku saja yang masuk. Aku
geregetan, sudah dua kali Ima mencapai klimaks sedangkan aku belum
sama sekali, begitu Ima sedang menikmati klimaksnya, aku langsung
menghunjamkan seluruh batang penisku kedalam liang vaginanya
"Sloop..sloop..sloopp.." dengan gerakan turun naik yang berirama
"Aahh.. aahh.. hemnghh.. oohh.. aahh.. dhii.. aahh.. aahh.. ehh..
nhak ..sha..yang.. enghh..oohh.." Ima mendesah-desah dan
berteriak-teriak merasakan nikmatnya rojokan penisku di liang
vaginanya yang sempit dan agak peret.
Aku terus menaik turunkan penisku dan menghunjam-hunjamkan keliang
vaginanya, sementara Ima makin melenguh, mendesah dan
merintih-rintih merasakan gesekan-gesekan batang penisku dan
garukan-garukan kepala penisku didalam liang vaginanya yang basah
dan kurasakan sangat nikmat, seperti menghisap dan memilin-milin
penisku. Suara rintihan dan desahan Ima semakin keras kudengar
memenuhi ruang kamarnya sementara deru nafas kami semakin! memburu,
dan akhirnya "Aahh.. dhii..ahh.. khuu.. sam..phai.. lhaa..ghii..
aahh..aahh.. aahh.." jeritnya terputus-putus mencapai kenikmatan
ketiganya, aku masih belum puas, kutarik kedua tangannya dan aku
menjatuhkan diri kebelakang sehingga posisinya sekarang Ima berada
diatasku. Setelah kami beradu pandang dan berciuman mesra sesaat,
Ima mulai memaju mundurkan dan memutar pinggulnya, memelintir
penisku didalam liang vaginanya, gerakan-gerakannya berirama dan
semakin cepat diiringi suara rintihan dan desahan kami berdua,
"Aahh.. Ima.. oohh.. enak banget..aahh.." aku menikmati gerakan
binalnya, sementara kedua tanganku kembali meremas kedua buah
dadanya dan jemariku memilin puting-putingnya "Aahh.. hemhh.. oohh..
nghh.. " teriakannya kembali menggema keseluruh ruangan kamar,
"Tahan.. dhulu.. aahh.. tahan.." sahutku terbata menikmati gesekan
vaginanya di penisku, "Enghh.. akhu.. nggak khuat.. oohh.. honey..
aahh.." balasnya sambil mengelinjang-gelinjang hebat dengan
vaginanya yang sudah mengempot-empot "Seerrt.. seerrt.. seerrt.."
Ima mengeluarkan banyak cairan dari dalam vaginanya dan aku
merasakan hangatnya cairan tersebut diseluruh batang penisku,
tubuhnya mengigil disertai vaginanya berdenyut-denyut hebat dan
kemudian Ima ambruk dipelukanku kelelahan "Oohh.. adhi.. hhhh..
mmhh.. hahh..enak banget sayang.. oohh.. mmhh.." bibirnya kembali
melumat bibirku sambil menikmati klimaksnya yang keempat, sementara
penisku masih bersarang berdenyut-denyut perkasa didalam vaginanya
yang sangat basah oleh cairan kenikmatan dari vagina miliknya yang
masih berdenyut-denyut dan menghisap-hisap penisku.
Kami terdiam sesaat, kemudian "Aku haus banget sayang, aku minum
dulu yaa..boleh ?" pintanya memecah kesunyian masih berpelukan erat
sambil kubelai-belai punggungnya dengan tangan kiriku dan agak
kuremas-remas pantatnya dengan tangan kananku, "Boleh, tapi jangan
lama-lama ya, aku belum apa-apa nih.." ujarku jahil sambil
tersenyum. Sambil mencubit pinggangku Ima melepas pelukannya,
melepas penisku yang bersarang di liang vaginanya "Plop.." sambil
memejamkan matanya menikmati sensasi pergeseran penisku dan
didinding-dinding vaginanya yang memisah untuk kemudian berdiri dan
berjalan keluar kamar mengambil sirup orange dimeja samping sofa.
Kemudian Ima berjalan kembali memasuki kamar sambil minum dan
menawarkannya padaku. Aku meneguknya sedikit sambil mengawasi Ima
berjalan menuju kamar mandi dalam kamarnya yang besar. Indah sekali
pemandangan tubuhnya dari belakang, putih mulus dan tanpa cacat. Ima
masuk kekamar mandi, sejenak kuikuti dia, kulihat Ima sedang
membasuh tubuh indahnya yang berkeringat dengan handuk "Kenapa ?
Udah nggak sabar ya ?" tanyanya sambil melirikku dan tersenyum
menggoda.
Tanpa basa-basi kuhampiri Ima, kupeluk dari belakang dan kuciumi
tengkuknya, pundaknya dan lehernya. Sementara kedua tanganku
bergerilya membelai kulit tubuhnya yang halus. "Aahh..beneran nggak
sabar..hihihi.." ucapnya "Emang..abis upacaranya banyak amat.".
Sambil tetap membelakanginya, tangan kananku mulai menuju kebuah
dada kanan dan kirinya, dengan posisi tangan kananku yang melingkar
di dadanya dua bukit bulat nan indah miliknya kugapai, sementara
tangan kiriku mulai menuju ke vaginanya.
"Hemhh..sshh..aahh..enghh.." desahannya mulai terdengar lagi setelah
jari tengah tangan kiriku bermain di klitorisnya, sesekali
kumasukkan dan kukeluarkan jari tengahku kedalam liang vaginanya
yang mulai basah! dan lembab serta tak ketinggalan tangan kananku
meremas-remas buah dada kanan dan kirinya. Kedua kakinya agak
diregangkan sehingga memudahkan jemari tangan kiriku bergerak bebas
meng-eksplorasi vaginanya dan bibir serta lidahku tidak berhenti
mencium juga menjilat seluruh tengkuk, leher dan pundaknya kiri dan
kanan, sementara tangan kanannya menggapai dan membelai-belai
rambutku serta tangan kirinya membelai-belai tangan kiriku. "Ahh..
adhhii.. sshh.. mmhh..enak sayang..enghh..enaakhh..", kurasakan
vagina mulai berdenyut-denyut, lalu agak kudorong punggungnya
kedepan, kedua tangannya menjejak washtaffel didepannya, kemudian
pinggulnya agak kutarik kebelakang serta pinggangnya agak kutekan
sedikit kebawah. Setelah itu kudorong penisku membelah kedua
vaginanya dari belakang "Srreepp.." aku tidak mau tanggung-tanggung
kali ini, kujebloskan seluruh batang penisku kedalam liang vaginanya
"Oouhh.. aahh.. adhhii.. oohh.." teriaknya berkali-kali seiring
dengan hunjaman-hunjaman penisku, tangan kiriku mencengkeram
pinggang kirinya sedangkan tangan kananku meremas-remas buah dada
kanannya yang sudah sangat keras dan kenyal "Aahh.. adhii.. aahh..
harder.. aahh.. harder honey..aahh.." pintanya sehingga gerakan maju
mundurku makin beringas "Pook.. pook.. pook.." bunyi benturan
tubuhku dibokongnya. Beberapa lama! kemudian liang vaginanya mulai
mengempot-empot dan menghisap-hisap kembali dan aku tak kuasa
menahan rintihan-rintihan bersamaan dengan rintihannya "Ima.. aahh..
enak shay.. hemnghh.." "Aahh.. akhuu.. aahh.. sham.. phai.. aahh..",
"Tahan.. dulu.. sha.. yang..hhuuh.." ujarku sambil terus
menghunjam-hunjamkam penisku beringas karena aku juga mulai
merasakan hal yang sama, "Aahh.. akhuu.. nggak.. kuat.. aahh..
AAHH.." "Seerrt..seerrt..seerrt.." kembali Ima mencapai klimaks dan
menyemburkan cairan kental tubuhnya, berkali-kali, aku nggak peduli
dan tetap ku genjot maju mundur penisku ke dalam vaginanya yang
sudah sangat becek.
Kurasakan penisku seperti disedot-sedot dan dipuntir-puntir di dalam
vaginanya yang sudah bereaksi terhadap orgasmenya. Akhirnya
mengalirlah lava panas dari dalam tubuhku melewati batang penisku
kemudian ke ujungnya lantas memuncratkan sperma hangatku ke dalam
vaginanya yang hangat "Aahh..." kami mendesah lega setelah sedari
tadi! berpacu mencapai kenikmatan yang amat sangat. Tubuh Ima
mengigil menikmati sensasi yang baru saja dilaluinya untuk kemudian
kembali mengendur meskipun vaginanya masih mengempot dan
menghisap-hisap, aku diam dan kubiarkan Ima menikmati sensasi
kenikmatan klimaksnya. "Ahh.. punyamu enak ya Ima.. bisa
ngempot-ngempot gini.."ujarku memuji, "Enak mana sama punya adikku
?" tanyanya sambil menghadapkan kearah wajahku dibelakangnya dan
tersenyum "Punyamu..hisapannya lebih hebat..mmhh.." kucium mesra
bibirnya dan Ima memejamkan matanya. Kemudian kucabut penisku
"Ploop.." "Aahh.." Ima agak menjerit, dan cepat kugandeng tangannya
keluar dari kamar mandi dan kembali ketempat tidur. Setelah Ima
merebahkan dirinya terlentang di tempat tidur, aku berada diatasnya
sambil kuciumi dan kulumat bibir mungilnya "Mmhh..mmhh.." tangan
kanannya meremas-remas penisku yang masih saja gagah setelah 2 jam
bertempur "Kamu hebat Di, udah 2 jam masih keras aja.. dan kamu
bener-bener bikin aku puas." puji Ima, "Sekali lagi yaa, yang ini
gong nya, aku bikin kamu puas dan nggak akan ngelupain aku
selamanya, oke ?!" balasku, sambil berkata aku mulai menggeser
tubuhku dan mengangkanginya, kemudian tanganku menuntun penisku
memasuki liang vaginanya menuju pertempuran terakhir pada hari itu.
"Sleepp.." "Auuwhh.." Ima agak menjerit. Perlahan tapi mantap
kudorong penisku, sambil terus kutatap wajah manis iparku ini, Ima
merem melek, mengernyitkan dahinya, dan menggigit bibir bawahnya
dengan nafas memburu menahan kenikmatan yang amat sangat
didinding-dinding vaginanya yang becek "Hehhnghh.. engghh.. aahh.."
gerangnya.
Aku mulai memaju mundurkan gerakan pinggulku, perlahan-lahan makin
lama makin cepat, makin cepat, dan makin cepat, sementara Ima yang
berada dibawahku mulai melingkarkan kedua kaki indahnya kepinggangku
dan kedua tangannya memegang kedua tanganku yang sedang menyangga
tubuhku, Ima mengerang-erang, mendesah-desah dan melenguh-lenguh
"Aahh.... oohh.. sshh.. teruss.. honey.. oohh..", sementara akupun
terbawa suasana dengusan nafas kami berdua yang memburu dengan
menyertainya mendesah, mengerang, dan melenguh bersamanya "Enghh..
Imaa.. oohh.. ennakh.. sayang..?" tanyaku "He-eh.. enghh.. aahh..
enghh.. enakhh.. banghethh.. dhii... aahh.." lenguhannya kadang
meninggi disertai jeritan-jeritan kecil dari bibir mungilnya "Oohh..
adhii.. oohh.. enghh.." tubuhnya mulai bergelinjangan dan
berkelojotan, matanya mulai dipejamkan, jepitan kaki-kakinya mulai
mengetat dipinggangku, kami terus memacu irama persetubuhan kami,
aku yang bergerak turun naik memompa dan merojok-rojok batang
penisku kedalam liang vaginanya diimbangi gerakan memutar-mutar
pinggul Ima yang menimbulkan sensasi memilin-milin di batang
penisku, nikmat sekali.
Kulepas pelukanku untuk kemudian aku merubah posisiku yang tadinya
menidurinya ke posisi duduk, kuangkat kedua kaki Ima yang indah
dengan kedua tanganku dan kubuka lebar-lebar untuk kembali kupompa
batang penisku kedalam liang vaginanya yang makin basah dan makin
menghisap-hisap "Enghh.. Adhii.. oohh.. shaa.. yang.. aahh.." kedua
tangan Ima meremas erat bantal dibawah kepalanya yang menengadah
keatas disertai rintihan, teriakan, desahan dan lenguhan dari bibir
mungilnya yang tidak berhenti. Kepalanya terangguk-angguk dan
badannya terguncang-guncang mengimbangi gerakan tubuhku yang makin
beringas. Kemudian aku mengubah posisi kedua kaki Ima untuk
bersandar dipundakku, sementara agak kudorong tubuhku kedepan, kedua
tanganku serta merta bergerak kekedua buah dadanya untuk
meremas-remas yang bulat membusung dan memuntir-puntir puting
susunya kenyal dan mengeras tanpa kuhentikan penetrasi penisku
kedalam liang vaginanya yang hangat dan basah. Ima tidak berhenti
merintih dan mendesah sambil dahinya mengernyit menahan klimaksnya
agar kami lebih lama menikmati permainan yang makin lama semakin
nikmat dan membawa kami melayang jauh. "Oohh.. Ahh.. Dhii.. enghh..
ehn.. nnakhh.." desahan dan rintihan Ima menikmati gesekan-gesekan
batang penis dan rojokan-rojokan kepala penisku berirama
merangsangku untuk makin memacu pompaanku, nafas kami saling
memburu.
Setelah mulai kurasakan ada desakan dari dalam tubuhku untuk menuju
penisku, aku merubah posisi lagi untuk kedua tanganku bersangga pada
siku-siku tanganku dan membelai-belai rambutnya yang sudah basah
oleh kucuran keringat dari kulit kepalanya. Sambil aku merapatkan
tubuhku diatas tubuh Ima, kedua kaki Ima mulai menjepit pinggangku
lagi untuk memudahkan kami melakukan very deep penetration, rintihan
dan desahan nafasnya yang memburu masih terdengar meskipun kami
sambil berciuman Mmnghh.. mmhh.. oohh.. ahh.. Dhii.. mmhh.. enghh..
aahh.." "Oohh.. Imaa.. enghh.. khalau.. mau sampai.. oohh..
bhilang.. ya.. sha.. yang..enghh..aahh.." ujarku meracau "Iyaa..
honey..oohh..aahh.." tubuh kami berdua makin berkeringat, dan rambut
kami juga tambah acak-acakan, sesekali kami saling melumat bibir
dengan permainan lidah yang panas disertai gerakan maju mundur
pinggulku yang diimbangi gerakan memutar, kekanan dan kekiri pinggul
Ima. "Oohh.. dhii.. oohh.. uu.. dhahh.. belomm.. engghh.. akhu..
udahh.. nggak khuat..niihh,," erangan-erangan kenikmatan Ima
disertai tubuhnya yang makin menggelinjang hebat dan liang vaginanya
yang mulai mengempot-empot dan menghisap-hisap hampir mencapai
klimaksnya "Dhikit.. laghi.. sayang.. oohh.." sambutku karena
penisku juga sudah mulai berdenyut-denyut "Aahh.. aa.. dhii..
noww..oohh.. enghh..aahh" jeritnya "Yeeaa.. aahh.." jeritanku
mengiringi jeritan Ima, akhirnya kami mencapai klimaks bersamaan,
"Srreett.. crreett.. srreett.. crreett.." kami secara bersamaan dan
bergantian memuntahkan cairan kenikmatan berkali-kali sambil
mengerang-erang dan mendesah desah, kami berpelukan sangat erat, aku
menekan pinggulku dan menancapkan penisku sedalam-dalamnya ke dalam
liang vag! ina Ima, sementara Ima membelit pinggangku dengan kedua
kaki indahnya dan memelukku erat sekali seakan tak ingin dilepaskan
lagi sambil kuciumi lehernya dan bibir kami juga saling berciuman.
Nikmat yang kami reguk sangatlah dahsyat dan sangat sulit dilukiskan
dengan kata-kata. Sementara kami masih saling berpelukan erat,
vagina Ima masih mengempot-empot dan menghisap-hisap habis cairan
spermaku seakan menelannya sampai habis, dan penisku masih
berdenyut-denyut didalamnya,dan kemudian secara perlahan tubuh kami
mengendur saling meregang, dan akupun jatuh tergulir disamping
kanannya.
Sesaat rebah berdiam diri bersebelahan, Ima kemudian merebahkan
kepalanya dipundak kiriku sambil terengah-engah kelelahan dan
mencoba mengatur nafasnya setelah menikmati permainan surga dunia
kami. Kulit tubuhnya yang putih dan halus berkeringat bersentuhan
dengan kulitku yang berkeringat, Ima memelukku mesra, dan tangan
kiriku membelai rambut dan pundaknya. "Adi.. kamu hebat banget, gue
sampai puas banget sore ini, klimaks yang gue rasakan beberapa kali
belum pernah gue alamin sebelumnya, hemmhh.." Ima berkata sambil
menghela nafas panjang "Ma kasih ya sayang.. thank you banget.."
ujarnya lagi sambil kami berciuman mesra sekali seakan tak ingin
diakhiri. Tak terasa kami sudah mereguk kenikmatan berdua lebih dari
4 jam lamanya dan hari sudah menjelang sore. Setelah puas berciuman
dan bermesraan, kami berdua menuju kamar mandi untuk membasuh
keringat yang membasahi tubuh kami, kami saling membasuh dan
membelai tak lupa diselingi ciuman-ciuman kecil yang mesra. Setelah
selesai kami berpakaian dan menuju lantai bawah ke ruang tengah
untuk menonton TV dan menunggu istri dan mertuaku serta anaknya
pulang dari kegiatan masing-masing. Sambil menunggu kami masih
saling berciuman menikmati waktu yang tersisa, Ima berucap padaku
"Adi..kalo gue telpon, kamu mau dateng untuk temenin gue ya
sayang.." "Pasti !" jawabku, lalu kami kembali berciuman. Sejak
kejadian itu, tiap kali Anto (suaminya) tidak di Jakarta, paling
tidak seminggu 2 kali aku pasti datang kerumah Ima iparku itu untuk
mereguk kenikmatan berdua hingga larut malam dengan alasan pada
istriku lembur atau ada rapat dikantor, dan sebulan sekali aku pasti
menghabiskan weekendku merengkuh kenikmatan langit ketujuh berdua
Ima.